Apakah para koruptor kelas kakap pantas untuk dihukum potong tangan?

Minggu, 31 Desember 2017

Refleksi Pertemuan ke-7 dan 8 (tanggal 7 dan 14 November 2017)

Tanya Jawab Filsafat: Intuisi dan Kebetulan
Irham Baskoro
17709251004
Pendidikan Matematika A, 2017


          Hari Selasa sore tanggal 7 November 2017, perkuliahan filsafat diawali dengan tes isian singkat. Kali ini tes isian singkat memang sedikit berbeda dengan tes-tes isian singkat sebelumnya. Topiknya yaitu tes seputar tokoh-tokoh dalam filsafat atau filsuf. Misalnya tokoh formal yaitu Hibelrt, tokohnya fokus yaitu Husserl, tokohnya sayang yaitu Freud, tokohnya cinta yaitu Freud, tokohnya politik adalah Machavelli, tokoh pertanyaan adalah Socrates, tokohnya salah adalah Lakatos, tokohnya bentuk dan isi adalah Plato, dan sederet tokoh-tokoh lainnya. Alhamdulillah bisa mendapat skor 20 (5 soal benar) dari tes tersebut. Selanjutnya hari Selasa tanggal 14 November sore, kami kembali mengikuti perkuliahan filsafat bersama Prof.Marsigit. Seperti biasa, perkuliahan diawali dengan tes isian singkat. Tes kali ini saya mendapatkan 0 (tidak ada jawaban yang benar). Hal tersebut memacu saya untuk lebih banyak lagi belajar tentang filsafat.
          Selanjutnya perkuliahan diisi dengan sesi tanya jawab. Berikut ini delapan pertanyaan yang muncul dalam sesi tanya jawab pada pertemuan ke-7 dan ke-8, berikut pembahasannya dari Prof.Marsigit.

Pertanyaan 1: Apakah peran intuisi dalam kehidupan sehari-hari?

Jika Istri tidak mempunyai intuisi bisa saja ia kehilangan suami atau sebaliknya. Terkadang dalam kehidupan sering kita dengar atau ucap: “Aku punya feeling gak enak” atau “Aku punya perasaan gak enak.” Hal itu merupakan intuisi dalam bahasa sehari-hari. Misal seseorang naik mobil dari Yogya ke Jakarta. Di perjalanan sampai Cirebon, ia lupa kalau kompor belum dimatikan. Maka ia segera menghubungi tetangga atau kembali lagi ke rumah. Ciri dari intuisi yaitu tidak ada awalannya, ia mengerti namun tidak tahu kapan dan dari mana asalnya. Intuisi bukan berasal dari definisi namun suatu definisi membutuhkan intuisi. Sampai akan matipun, seseorang masih memiliki intuisi. Intuisi bukan hanya dominasi anak kecil, namun intuisi juga milik orang dewasa. Intuisi muncul dari pergaulan yang ruang lingkupnya meliputi yang ada dan yang mungkin ada.

Pertanyaan 2: Menghilangkan persepsi matematik itu sulit?

Dengan bergurau Prof menjawab: tinggal tidur saja. Untuk menghilangkan persepsi bahwa matematika sulit yaitu dengan hermenitika yaitu “pikirkan apa yg kau kerjakan dan kerjakan yg kau pikirkan” Hermenitika (menterjemahkan) itu berjenjang, bertingkat, dan berdimensi mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar. Persepsi matematika sulit dapat dihilangkan dengan memperbaiki hubungan antara guru dan siswa dalam kaitannya saling menterjemahkan dan diterjemahkan (hermenitika).

Pertanyaan 3 : Bagaiman filsafat memandang Kebetulan?

Kebetulan terjadi karena manusia itu terbatas, baik terbatas dari aspek penglihatan, pengetahuan, perasaan, dan seterusnya. Bagi Allah SWT, tidak ada suatu kebetulan dan semua sudah ada skenarionya. Bagi manusia, kebetulan itu karena suatu keterbatasa, Misal seseorang yang ditutup matanya, namun bisa menemukan jalan keluar dikarenakan suatu kebetulan.

Pertanyaan 4: Bagaimana filsafat memandang trial and error dlm mtk?

Salah satu jenis matematika yaitu matematika model dari filsafat yaitu matematika formal (mengandalkan logika). Matematika logika tanpa melihat kenyataan. Prof menyatakan bahwa beliau bisa saja membuat buku alien, yang isinya meliputi definisi alien, sifat-sifat alien, dan sterusnya, lalu dibuatlah teorema, aksioma. Bisa saja kita membuat sesuatu yang analitik yang penting logis, konsisten, dan tidak kontradiktif. Selanjutnya Prof menyatakan bahwa ternyata untuk membuat teorema itu dengan trial and error atau coba-coba. Tidak ada manusia yg absolut, semua relatif digambarkan dengan kegiatan mencoba, baik mencoba menulis, mencoba membuktikan, dan mencoba-coba yang lainnya. Mencoba itu berstruktur dari mencobanya batu sampai ke arah spiritual.

Pertanyaan 5: Bagaiman Politik dalam filsafat itu?

Politik dalam filsafat diawali sejak terbitnya buku demokrasi / republic oleh Plato di zaman Yunani dulu. Politik Machiavelli pada zaman Yunani menyatakan bahwa “raihlah kekuasaan dengan cara apapun”. Inilah yang sesungguhnya politik yang menjadi masalah. Tidak disadari banyak orang merasa sangat enjoy saat keadaan berkuasa, namun ketika tidak berkuasa merasa hidup tidak berguna dan tidak karuan. Hal ini juga perlu dihindari.

Pertanyaan 6: Seberapa besar pengaruh budaya dalam filsafat?

Prof menjawab bahwa besar sekali pengaruh budaya dalam filsafat. Budaya itu buminya, sedangkan filsafat itu langitnya. Ibaratnya kalau pikiran itu langitnya, sedangkan tindakan itu buminya. Contoh lainnya yaitu resep makanan itu langitnya, sedangkan buminya adalah nasi goreng. Di satu sisi bumi bisa menjadi langit dan langit bisa menjadi bumi.

Pertanyaan 7: Dalam berfilsafat apa yg harus jadi podasi?

Filsafat adalah pola pikir. Wujud pola pikir adalah bertanya, bertanya, bertanya. Apakah setiap pertanyaan ada jawaban? Ya, semua pertanyaan ada jawabannya. Karena tidak menjawab itupun sebenarnya merupakan jawaban. Namun apakah semua hal bisa ditanyakan? Jawabannya adalah tidak. Misal kita tidak bisa menanyakan semua hal terkait urusan orang tua. Hal itu bisa tergolong tidak sopan, tidak sesuai etik dan estetika. Tdk semua hal bisa ditanyakan. Supaya ngerti mana yg bisa ditanyakan atau tdk berbasis pada tuntunan agama, moral, budaya masyarakat.

Pertanyaan 8: Apa perbedaan Fenomena dan Noumena

Fenomena adalah kenyataan yang bisa dipikirkan dan diindera. Sebaliknya Noumena itu tidak bisa dipikirkan dan tidak bias diinedera. Contoh dari noumena adalah arwah.

Refleksi Seminar Nasional Matematika Etnomatnesia

Refleksi Seminar Nasional Matematika Etnomatnesia

Etnomatematika: Perspektif Matematika dari Budaya Indonesia

Sabtu, 9 Desember 2017

Narasumber ke 3: Prof.Dr.Marsigit, M.A.



Irham Baskoro

17709251004

Pendidikan Matematika A, 2017

Hari Sabtu tanggal 9 desember 2017, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) menyelenggarakan Seminar Nasional bertema Pendidikan Matematika Etnomatnesia. Etnomatematika: Perspektif Matematika dari Budaya Indonesia dan bertempat di Ruang Ki sarino Kampus 1 UST Yogyakarta. Dalam seminar tersebut, para pembicara menjelaskan materi seminar yaitu mengenai keterkaitan antara matematika dan Budaya Indonesia. Seminar berlangsung sangat menarik. Ternyata keterkaitan matematika dan budaya Indonesia sangat beraneka ragam, seperti: penggunaan matematika dalam menentukan hari pasaran Jawa, menghitung 1000 harian meninggalnya sesorang, motif-motif batik, candi-candi, dan lain sebagainya.

 Salah satu pembicara dalam seminar ini adalah Prof. Dr. Marsigit, MA. Beliau menjelaskan tinjauan secara filsafat dari etnomatematika ini. Dalam kesempatan itu, Prof Marsigit berkolaborasi dengan Rahayu Condromukti, M.Si., Dafid Slamet Setiana,M.Pd., dan Sylviyani Hardiarti, S.Pd. Pada akhir seminar ditunjukkan video-video mengenai penerapan etnomatematika dalam pembelajaran matematika. Dalam video yang ditampilkan tersebut, guru dan siswa saling mengeksplorasi etnis dan budaya di Yogyakarta seperti Kraton Yogyakarta, Candi-candi, dan lain sebagainya, yang kemudian setelah itu diterapkan untuk pembelajaran konsep matematika di kelas.

Refleksi Pertemuan ke-6 (tanggal 31 Oktober 2017) Hermenitika dan Anomali

Tanya Jawab Filsafat: Hermenitika dan Anomali
Irham Baskoro
17709251004
Pendidikan Matematika A, 2017

         Seperti biasa hari Selasa sore pukul 15.30, kami memulai perkuliahan filsafat bersama Prof Marsigit. Seperti biasa di awal perkuliahan kami disuguhi ujian isian singkat tentang filsafat. Kali ini saya mendapat nilai 8 (2 soal benar). Setelah ujian isian singkat selesai dibahas, perkuliahan berlangsung dengan sesi tanya jawab. Berikut ini sebagian pertanyaan yang muncul dari beberapa mahasiswa.

Pertanyaan 1: Metode apa yg Bapak gunakan dalam perkuliahan filsafat ini?
Metode yang Prof gunakan adalah hermenitika. Heremenitika adalah menterjemahkan, diterjemahkan, dan dijalani. Setiap muncul suatu persoalan lalu direfelksikan. Begitulah dilakukan secara konsisten dan berulang-ulang seterusnya.

Pertanyaan 2: Adakah indikator ikhlas dalam belajar?
Ikhlas itu mencakupi ikhlas dalam pikir dan ikhlas dalam hati. Iklhas dalam intensif (sedalam-dalamnya) dan ekstensif (seluas-luasnya). Ikhlas itu sebenarnya berstruktur mulai dari ikhlas formal, normative, sampai spiritual. Misal mahasiswa datang ke perkuliahan secara formal ia memang datang, namun secara spiritual ia jengkel dalam mengikuti perkuliahan. Sehingga ikhlas itu bertingkat-tingkat.

Pertanyaan 3: Bagaimana mengatur sesuatu yang diingat dan yang dilupakan?
Segala sesuatu itu dijalani saja. Tidak perlu mengingat-ingat kejahatan yang dilakukan orang. Ingatlah yang baik-baik saja. Prof menambahkan bahwa ingatan itu hanyalah 1 titik dari keseluruhan. Masih banyak titik-titik lain yaitu pikiran, ucapan ,perasaan, dan ribuan lainnya. Orang akan bermasalah ketika ia ingat sholat, tetapi tidak dijalankan. Mengingat akan mudah jika menyenangkan. Kalau tidak senang, tentu akan mudah dilupakan. Maka dari itu lakukanlah hermenitika : pikirkan apa yang kamu kerjakan dan kerjakan yang kamu pikirkan, tentunya dalam kerangka doa. Ingatan itu berstruktur mulai dari yang sederhana sampai yang paling kompleks. Yang sederhana misalnya mengigat password, nomor pin, dan sebagainya. Prof kemudian menyebutkan Ingatan berikutnya adalah ingatan pada istri. Mengingat istri beliau bukan sekadar ingat nama, namun mengingat 1001 macam hal yang terkomposisi. Misalnya ingat jenis sepatu istri, jenis tulisan tangan istri, dan lain sebagainya.


Pertanyaan 4: Apakah anomali itu?
Kontradiksi itu berstruktur dan berdimensi mulai dari batu sampai langit. Orang awam mengatakan bahwa kontradiksi adalah sesuatu yang bertentangan. Kontradiksi dalam matematika menyatakan bahwa x tidak sama dengan x , kontradiksi dalam filsafat menyatakan A tidak sama dengan A, kontradiksinya tubuh kita adalah komplikasi, kontradiksinya masyarakat adalah anomaly. Ciri anomali adalah dibenci tapi dibutuhkan. Prof menjelaskan contohnya yaitu handphone. Handphone dibenci tapi dibutuhkan, oleh karena itu handphone telah menimbulkan anomali di masyarakat.

Pertanyaan 5: Bagaimana menyeimbangkan wadah dan isi?
Wadah dan isi akan mencari bentuknya sendiri (tidak perlu dicari keseimbangannya). Apapun yang kamu lakukan bahkan tidak bersikappun itu adalah sikap, kamu tidak menjawabpun, itu adalah jawaban. Karena dalam filsafat, bukan jawaban itu adalah merupakan jawaban.

Refleksi Pertemuan ke-5 (tanggal 17 oktober 2017) “Ikhlas Hati dan ikhlas Pikir”

Ikhlas Hati dan ikhlas Pikir
Irham Baskoro
17709251004
Pendidikan Matematika A, 2017

            Pada tulisan saya kali ini akan membahas mengenai perkuliahan filsafat pada pertemuan ke-5 tanggal 17 Oktober 2017 Pendidikan Matematika kelas A. Seperti biasa di awal perkulaiahan Prof menyelenggarakan tes ujian singkat mengenai filsafat. Alhamdulillah saya mendapat skor 12 (Benar 3 soal). Setelah itu Prof melanjutkan menerangkan substansi filsafat pada mahasiswa. Di awal perkuliahan beliau juga memberi pesan pada mahasiswa agar selalu ikhlas baik ikhlas dalam hati dan ikhlas dalam pikir saat perkuliahan. Seperti saat mengerjakan tugas filsafat berupa comment blog atau refleksi mingguan, hendaknya terhindar dari budaya copy-paste atau menjiplak. Saya sangat setuju dengan hal ini. Kalau saat mahasiswa saja sudah banyak melakukan kecurangan seperti copy-paste atau menyadur karya orang lain tanpa ijin, bagaimana kalau sudah menjadi guru atau dosen kelak? Budaya yang kurang baik itu harus dieliminasi sedini mungkin. Dalam filsafat itu ada elemen aksiologi yang terkait dengan etik dan estetika. Mahasiswa harus bisa memahami etik dan estetika sebagai mahasiswa. Kalau mahasiswa hanya sering menjiplak atau menyadur saat mengerjakan tugas-tugas, maka hal itu sama saja kosong tidak berarti (nihil). Hal ini juga terkait dengan filsafat spiritualism. Spiritual berguna untuk mencegah jangan sampai melakukan perbuatan yang tidak terpuji.

         Prof juga menambahkan kalau kecantikan seseorang itu tidak penting, namun yang paling penting adalah apa disebaliknya (metafisik). Yang terpenting adalah bukan tampilan luarnya, namun disebaliknya. Kalau orang awam mengatakannya sebagai “inner beauty”. Di sisi lain Prof menjelaskan bahwa kalau pamer (yang baik) itu biasa. Jangan sampai orang yang “pamer” itu dinilai sombong. Namun sebagai guru, dosen, pengajar, atau peneliti, melakukan “pamer” tidak lain yaitu sebagai akuntabilitas dan sustainability mereka dalam pendidikan. Tidak mungkin peneliti menyembunyikan hasil penelitiannya dan tidak mempublikasikan atau “memamerkannya” untuk kepentingan orang banyak. Begitu juga kita belajar filsafat ini dapat ditujukan kepada orang tua, sebagai wujud bertanggung jawab kepada orang tua yang telah membiayai dalam berkuliah.

       Selanjutnya Prof menjelaskan filsafat tentang berbohong. Pada dasarnya manusia pernah berbohong. Prof kemudian memvalidasi pernyataannya dengan menanyakan pada mahasiswa. Apakah diantara anda ada yg belum pernah bohong? Semua mahasiswa terdiam. Artinya semua mahasiswa pernah berbohong, entah bohongnya ditujukan pada siapa. Kemudian Prof melanjutkan pemaparannya bahwa manusia tidak akan bisa hidup kalau tidak pakai topeng. Semua anda pernah berbohong. Filsafat mengakui apa adanya. Kemudian Prof menyatakan kalau tidak pernah bohong barang kali aneh juga. Semakin tinggi kekuasaan semakin sering kebohongan dilakukan. Semua manusia memakai topengnya masing-masing. Kemudian Prof bergurau dengan menyatakan engkau kalau cari pasangan jangan cari yang terlalu perfeks. :)

Senin, 18 Desember 2017

Wayang, Punokawan, dan Keteladanan

Wayang, Punokawan, dan Keteladanan

Refleksi Tugas Perkuliahan Filsafat

Dosen: Prof.Marsigit

Oleh:

Irham Baskoro (17709251004)

⟹PPs Pendidikan Matematika UNY 2017 ⟸



Hari Jumat, tanggal 24 November 2017 malam, saya dan teman-teman Program Studi Pendidikan Matematika Pascasarjana (A) menonton pagelaran wayang kulit di Kompleks Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Pagelaran wayang dimulai pukul 20.00 dengan biaya tiket Rp20.000,00. Cerita pewayangan pada malam itu adalah tentang kematian Rahwana. Meski memiliki kekuatan besar, Rahwana tidak bisa mengalahkan Rama. Malah sebaliknya Rahwana dibunuh oleh Rama, dengan senjata mematikannya yang bernama Gwawijaya. Dan akhirnya cerita ini ditutup dengan kematian Rahwana. Dengan kematian Rahwana, maka dunia dibebaskan dari kekuatan jahat.

Cerita Ramayana yang menceritakan kisah Rama-Shinta dimana Shinta diculik oleh Rahwana memang sudah sering kita dengar. Oleh karena itu dalam refleksi kali ini saya akan lebih menyoroti tentang hal yang lain yaitu karakter dibalik tokoh-tokoh Punokawan dalam pewayangan. Dalam cerita pewayangan, seringkali muncul para tokoh punokawan di tengah atau di akhir cerita. Punokawan ini terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Banyak karakter positif atau nilai keteladanan yang dapat kita pelajari dari keempat tokoh punokawan ini. Berikut penjelasannya.

Karakter Punokawan



Semar memiliki karakter sebagai pelayan masyarakat. Ia laksanakan tugas itu sebagai bagian dari ibadah sesuai perintah Illahi. Ketika berjalan, Semar menghadap ke atas yang maknanya bahwa ia memberi contoh agar selalu memandang Yang Maha Kuasa, selalu ingat pada Tuhan.




Gareng berkaki pincang yang maknanya sebagai sosok kawula atau umat. Ia memiliki cacat fisik yang lain yaitu tangan yang ciker atau patah yang maknanya tidak suka mencuri. Cacat yang lain yaitu matanya juling artinya ia tidak mau melihat hal-hal yang tidak baik dan mengundang kejahatan.





Berikutnya adalah tokoh petruk yang berhidung panjang. Berbeda dengan pinokio yang hidungnya panjang karena berbohong, tetapi hidung petruk panjang sampai mulutnya tertutup oleh hidungnya.  Maknanya ia tidak banyak bicara tetapi banyak kerja. Makna hidung panjang yaitu ia dapat mencium dan merasakan keadaan di sekitarnya. Ia tanggap akan kehidupan masyarakat di sekeliling­nya.






Punokawan yang terakhir adalah Bagong. Bagong ada­lah pribadi yang tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Ia juga tidak pernah marah dan tidak pernah protes atas masalah-masalah hidup yang dialaminya.

Sabtu, 16 Desember 2017

Pendekatan Iceberg (Gunung Es) dalam Pembelajaran Matematika Realistik: Refleksi Perkuliahan Pertemuan ke-9 dan 10 (21 dan 28 Nov 2017)

Pendekatan Iceberg (Gunung Es) dalam Pembelajaran Matematika Realistik
Refleksi Perkuliahan Filsafat Bersama Prof. Marsigit 

Oleh: Irham Baskoro
17709251004
PPs Pendidikan Matematika UNY 2017


            Perkuliahan filsafat bersama Bapak Prof. Marsigit pada tanggal 21 November dan 28 November 2017 membicarakan mengenai pendekatan iceberg (gunung es) dalam pembelajaran matematika relistik. Seperti terlihat dalam ilustrasi gunung es di dalam gambar (iceberg), bahwa puncak dari gunung es adalah bagian gunung yang paling terlihat dari luar. Puncak dari gunung es diibaratkan matematika formal yang berisi notasi-notasi atau simbol-simbol matematika yang abstrak. Matematika formal inilah yang paling disorot, menghiasi banyak literature, buku-buku matematika, dan soal-soal Ujian Nasional Matematika.
Yang perlu disadari bahwa formal notation tersebut sebenarnya dibangun dari tahapan-tahapan yang hirarkis, mulai dari dasar gunung es yang berupa matematika dalam kehidupan sehari-hari (mathematics world orientation).  Setelah itu, hal-hal dalam kehidupan sehari-hari tadi dibawa sedikit ke atas yaitu menjadi model kongkrit (model material). Ditahap ini, sesuatu yang nyata tadi dapat disajikan dalam bentuk gambar. Setelah itu tahap diatasanya adalah model formal, dimana siswa sudah mulai dapat membangun pengetahuannya walaupun masih mengandalkan model. Kemudian di puncak tertinggi adalah matematika formal, yang melibatkan simbol-simbol atau notasi-notasi yang abstrak tanpa melibatkan model lagi.



Bagi saya, pendekatan iceberg dalam pembelajaran matematika ini sangat menarik dan sangat membantu. Sayapun berusaha membuat suatu model iceberg untuk menerangkan pengurangan suatu pecahan (seperti pada gambar). Pada tahapan paling dasar, siswa mengenal kue atau pizza dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian pada tahap diatasnya (model material / model kongkrit) kue tersebut dipotong-potong membentuk bagian-bagian pecahan. Selanjutnya model diatasnya adalah model formal dimana pemodelan sudah mengarah pada konsep matematika bahwa pecahan adalah bagian dari seluruh. Selanjutnya pada tahap paling atas adalah matematika formal dengan melibatkan angka, simbol atau notasi, yang dalam hal ini adalah  1 - 1/4 = 3/4.

Untuk itu ketika mengenalkan konsep matematika pada siswa khususnya siswa SD, guru dapat memulai menerangkan dari sesuatu yang kongkrit terlebih dahulu (aposteriori). Para siswa bisa belajar setelah mereka melihat. Mereka bisa memahami suatu konsep pecahan 1/4 setelah melihat kue atau pizza yang dibagi menjadi empat bagian sama besar. Jangan sampai kita sebagai guru terburu-buru menerapkan pembelajaran matematika dengan angka-angka, simbol yang bersifat analitik di awal pembelajaran. Tahapan gunung es (iceberg) ini akan menuntun siswa untuk membawa matematika dalam kehidupan sehari-hari menuju matematika dengan formal notation.
*) Irham Baskoro

Senin, 16 Oktober 2017

Ketika Aku Mengarungi "Narasi Besar Dunia"

Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika Pertemuan ke-4
Dosen Pengampu: Prof.Dr. Marsigit, MA.
Tanggal 10 Oktober 2017

Oleh: Irham Baskoro
NIM: 17709251004
Pendidikan Matematika Pascasarjana (Kelas A)
Universitas Negeri Yogyakarta




      Sore itu, tanggal 10 Oktober 2017, aku mengikuti kuliah Filsafat Bapak Prof Marsigit pertemuan ke empat.  Kebetulan kelasku mendapat jadwal kuliah filsafat tiap hari Selasa jam terakhir (jam setengah empat sore). Dengan memanfaatkan spidol dan papan tulis, Pak Marsigit mengawali perkuliahan dengan menggambar timeline. Suatu garis waktu yang ujungnya berupa laut dengan kapal dan ikan-ikannya. Akupun mulai bingung? Gambar apa sih itu? Ya begitulah aku, selalu bingung dengan hal-hal filsafat. Tetapi Alhamdulillah aku bingung, karena itu pertanda aku mulai berfikir. Pak Marsigitpun melanjutkan ekspository-nya. Beliau menjelaskan bahwa orang yang berfilsafat itu sedang mencari air yang jernih di lautan sana. Sehingga kita, para ikan-ikan di dalamnya akan sehat dan dapat berenang dengan nyaman. Namun zaman sekarang, ikan-ikan di laut pada berloncatan, stress, terbang, bahkan terapung. Salah satunya karena muncul berita-berita hoax, berita tipu-tipu, atau informasi bohong dan tidak rasional yang tak terbendung menyebar di berbagai media.
      Untuk mencapai kejernihan berfilsafat, bahasa menjadi salah satu kuncinya. Sebenar-benar kamu adalah bahasamu. Sebenar-benarnya hidupmu adalah bahasamu. Sebenar-benar rumahku adalah bahasaku. Sebenar-benar pikiran adalah bahasa. Dalam perkuliahan, bahasa dapat terwujud dalam suatu karya ilmiah seperti tesis atau disertasi. Kalau kamu plagiat dalam membuat karya tulis ilmiah, tesis, atau disertasi, maka itulah jiwamu yang sebenar-benarnya yaitu jiwa bohong atau jiwa plagiat.
      Dalam pikiran kita, filsafat hanya ada dua perkara saja, yaitu bagaimana menjelaskan pada orang lain dan bagaimana aku mampu memahaminya. Namun sepanjang akhir zaman tiada satu orangpun yg berhasil menggapainya, sampai-sampai Socrates menyatakan bahwa sebenar-benar diriku tidak mengerti apapun. Sehingga sebenar-benarnya diriku dalam kenyataan adalah bersifat kontradiksi atau A tidak sama dengan A. Sebenar-benar diriku tidak mampu menujuk siapa diriku, sebab disaat aku belum selesai menunjuk, aku sudah ganti dari aku yang tadi menjadi aku yang nanti, karena filsafat terikat ruang dan waktu. Menunjuk diriku saja tidak mampu, apalagi menunjuk orang lain. Jika berbicara tentang keberadaan Tuhan, maka Tuhan tidak terikat oleh ruang dan waktu seperti layaknya manusia. Tuhan di pagi hari tidak berbeda dengan Tuhan di sore hari. Namun ternyata tidak semua umat meyakininya. Bapak Marsigit mengambil contoh masyarakat Jepang. Mereka menganggap Tuhan mereka adalah matahari, yang cerah di pagi hari, redup di sore hari, dan hilang di malam hari. Orang Jepang juga mempercayai bahwa Tuhan mereka (shinto) bersifat plural (banyak), seperti Tuhan Gunung, Tuhan Bumi, Tuhan Bulan, dan lain-lain.
      Pak Marsigit melanjutkan pemaparannya. Akupun semakin asyik mendengarkan kata demi kata beliau. Beliau mengatakan bahwa "Diriku yang di alam pikiran itulah diriku yang idealis". Itulah identitas atau A sama dengan A. Itulah mengapa matematika bersifat abstrak (hanya di alam pikiran). Dalam mengajarkan matematika pada anak, matematika yang berada di alam pikiran itu harus diturunkan ke bawah untuk menjadi matematika yang nyata, kongkret, dan berdasar pengalaman sehari-hari. Pemaparan itu menyadarkanku bahwa ternyata aku masih terlalu abstrak dalam memberikan bimbingan atau les matematika pada anak SD.
      Pak Marsigit juga mengatakan bahwa sebenar-benar musuh filsafat adalah tidak tuntas. Sehingga beliau memberikan pesan bahwa jangan berani-berani berfilsafat di luar ruang dan waktunya. Tidak usah terlalu banyak berfilsafat ketika berinteraksi dengan tetangga, pedangang, sopir, atau kernet. Secerdas-cerdas kita adalah kita yang bisa menempatkan dan menyesuaikan ruang dan waktu. Jangan sampai usai kuliah filsafat, ketika ayah atau ibu bertanya "kamu bawa apa nak??" lalu kujawab "Aku bawa oleh-oleh hakikat", ha...ha..ha... sontak kamipun tertawa mendengarnya.
      Sifat idealistis itulah yang akan menuju absolutisme. Absolutisme itu bersifat mutlak atau wajib yaitu kebenaran dari Tuhan (Allah SWT). Maka perintahmu kepada adikmu, peraturan gubernur, peraturan lurah, peraturan menteri, peraturan presiden pada rakyatnya, semuanya hanyalah wajib relatif. Wajib absolut hanya dari Tuhan atau Allah SWT, atau siapapun yang mampu merefer dari peraturan Tuhan / Allah SWT, baik dalam ayat-ayatNya, hadist-hadist, dan lain sebagainya.
     Hingga tak terasa kami dibawa pada filsafatnya Plato dan Aristoteles. Filsafat antara yang dipikiran dan yang ada di kenyataan itu berkaitan dengan Platonism VS Aristotelianism. Kalau Platonism lebih pada yang ada di pikiran (idealism). Platonism menganggap sebenarnya semua hal sudah ada. Pesawat drone pada zaman plato sebenarnya sudah ada, hanya manusia belum bisa menemukannya. Kenapa kok belum bisa menemukannya? Karena manusia terperangkap dalam badan mereka. Sehingga sebenar-benarnya ilmu menurut Plato adalah pikiran. Hal ini ditentang oleh Aristoteles yang tidak lain adalah murid dari Plato sendiri. Aristoteles menyatakan bahwa sebenar-benar ilmu adalah kenyataan. Bapak Marsigit mencontohkan aliran platonism yaitu istri beliau ada satu, sementara dalam pandangan aristotelianism, istri Pak Marsigit ada banyak bahkan lebih dari sekedar poligami, seperti antara lain istri yang pakai batik, istri yang sedang masak, istri yang di sekolah, istri yang sedang tidur, istri yang bangun tidur, dan lain sebagainya. Itupun baru istri yang tadi (yang sudah), belum istri yang nanti (akan datang). Istriku dengan 1000 pangkat 1000 sifat, tidak bisa disebutkan satu per satu.
      Waktu terus berjalan tanpa istirahat. Pikirankupun tak hentinya mengembara seiring berjalannya timeline yang dipaparkan oleh Bapak Marsigit. Hingga pada suatu titik beliau menjelaskan bahwa pikiran sebagai logika. Logika itu bersifat analitik. Begitulah pola pikir orang matematika murni bahwa yang penting berfikir logis, mulai dari definisi, lalu aksioma, lalu teorema satu, teorema dua, ...teorema seribu. Lawannya adalah kenyataan yang bersifat sintetik. Pak Marsigit berpesan bahwa dalam mengajarkan matematika pada anak, jangan menggunakan matematika murni karena akan membuat intuisi anak menjadi hancur dan berantakan. Menjelaskan bilangan 2, bukan dengan definisi. Melainkan dua itu telinga kita, tangan kita, orang tua kita, dan hal-hal sepasang lainnya.
      Dalam kehidupan sehari-hari, Pak Marsigit mencontohkan seorang komentator bola voli, yang tiada henti mengkomentari jalannya pertandingan bola voli menggunakan pengeras suara tetapi mengabaikan azan Maghrib. Maka orang tersebut dianggap tidak mempunyai intuisi tentang sholat. Seharusnya orang yang memiliki intuisi tentang sholat maka ia akan berhenti dulu menjadi komentatornya, lalu menjalankan Sholat Maghrib, setelah itu baru dilanjut lagi menjadi komentator. Penerapan intuisi lainnya yaitu, dalam kehidupan berumah tangga. Seorang istri seharusnya curiga bila suami membeli handphone baru. Terlebih jika membeli handphone lebih dari satu. Tanpa kemampuan intuisi, istri bisa kehilangan suami atau suami bisa kehilangan istri. Jadi sebenarnya hidup ini sekitar 90% nya adalah menggunakan intuisi, sementara matematika murni hanya skitar 2% atau maksimal sekitar 5% berpengaruh dalam hidup kita. Jadi ciri intuisi itu: "tidak tahu kapan dan dari mana datangnya, yang penting aku ngerti."
      Lebih lanjut Pak Marsigit mengungkapkan logika analitik (true justification) itu seperti sistem kerja pada handphone. Handphone bisa melakukan operasi tanpa kenyataan, asalkan yang penting logis saja. Sekali lagi bahwa semua yang dikerjakan oleh handphone bersifat analitik, tidak sesuai kenyataaan. Begitulah kerja atau pola pikir matematika murni, yang menurut Immanuel Kant dikatakan belum berilmu. Maka Imanuel Kant mengkombinasikan antara sintetik dan apriori menjadi sintetik apriori. Apa itu apriori? Pak Marsigit menerangkan dengan contoh: matematikawan dapat menghitung jarak bumi dengan Planet Mars, padahal belum pernah kesana,, matematikawan bisa menghitung suhu Planet Mars padahal belum kesana. Pada intinya logis apriori itu: "belum ada data tapi kok bisa ngomong?" Disini aku mulai memahami apa makna apriori. Pak Marsigit kemudian melanjutkan dengan menerangkan aposteriori. Aposteriori adalah dunia bagian bawah atau dunianya anak-anak. Aposteriori adalah memahami sesuatu setelah mendengarkan, mengalami atau mendengarkan. Aposteriori juga dapat terjadi pada dunia binatang. Contohnya seekor kucing baru akan menggerak-gerakkan ekornya setelah melihat tikus yang lewat. Maka Imanuel Kant mengambil jalan tengah sintetik apriori sebagai konsep sebenar-benarnya ilmu.
     Aku mulai sedikit memahami tentang filsafat, walau mungkin pemahamanku tak lebih dari satu persen dan tak lebih dari butiran-butiran debu. Sedikit demi sedikit, mata, pikiran, dan hatiku terbuka dan siap menangkap lagi ilmu-ilmu yang baru. Kali ini Pak Marsigit menjelaskan antara prinsip dan bayang-bayang. Diatas langit itulah sebenar-benarnya prinsip, sementara bumi adalah bayanganya. Bolpoin adalah prinsip, sementara tulisannya adalah bayang-bayangnya. Orang tua adalah prinsip, sementara anak-anak adalah bayangannya. Maka hindari menyalahkan anak anda, karena itu sama saja menyalahkan anda sendiri. Seperti peribahasa tepuk air kena muka sendiri. Jangan mengeluh kalau murid anda suka mencontek, barangkali dulu anda suka mencontek. Lebih lanjut Pak Marsigit mengungkapkan bahwa sebenar-benarnya prinsip adalah kuasa Tuhan (absolut/monoism) seperti yang tercantum dalam kitab suci. Prinsip terdiri atas prinsip identitas (Tuhan) dan prinsip kontradiksi (kenyataan).
     Seiring wafatnya Compte (1857), faham atau fenomena Compte menjadi berkembang. Ia menyatakan bahwa agama tidak logis dan tidak dapat untuk membangun dunia. Agama diletakkan di lapis terbawah, kemudian di atas agama adalah filsafat, kemudian di atasnya lagi adalah saintifik. Mungkin sepintas kita menolak fenomena Compte ini. Negara kita adalah Pancasila yang menjunjung aspek Ketuhanan atau dimensi spiritualitas pada nomor utama. Namun kenyataannya, handphone, internet, Whatsaap, Facebook, seolah tak lepas dari kehidupan kita. Jangan heran kalau kita jadi lebih mementingkan watshaap, dari pada sholat atau ibadah. Jangan heran kalau kita lebih berjuang mendapatkan smartphone, dari pada sedekah.  Jadi jangan kita menunjuk telunjuk pada Compte yang merendahkan agama, sementara empat jari yang lain ternyata mengarah pada keburukan kita sendiri. Pemaparan ini telah mengingatkanku bahwa ternyata aku masih sering meletakkan agama dibawah kepentingan-kepentingan lainnya. Semoga refleksi perkuliahan kali ini membuka pikiran dan hatiku agar kehidupanku kedepannya menjadi lebih baik.
       Di akhir perkuliahan ini, Bapak Marsigit menceritakan kisah mengenai seorang Resi bernama Resi Gutawa yang sangat baik, sangat dekat dengan malaikat, dan sangat dekat dengan Tuhannya. Ia memiliki istri yang sangat cantik bernama Dewi Windarti dan dikaruniai tiga orang anak bernama Guarso, Guarsi, dan Anjani. Saking cantiknya ada seorang dewa yang tertarik dengan Dewi Windarti, hingga terjadilah sebuah skandal. Kemudian Sang Dewa memberikan Cupu Manik Astagina kepada Dewi Windarti. Dewi Windarti menerima begitu saja cupu tersebut. Di era sekarang, Pak Marsigit mengibaratkan Samsung (smartphone) sebagai Cupu Manik tersebut. Kita tidak tahu smartphone ini memuat berapa kontak, berapa negara yang terlibat dalam pembuatannya, dan di-packing dimana. Kita hanya tertarik saja, untuk whatsaap, facebook, internetan, sampai lupa makan, lupa mandi, lupa sholat, lupa anak, lupa suami. Begitulah yang dilakukan Dewi Windarti. "Hei Windarti, kamu pegang apaaa??" Teriak Resi. Namun Windarti hanya diam dan tetap asyik memainkan cupu tersebut. Kemudian dikutuklah Dewi Windarti: Jadi Patung Kau!! Jadilah patung Dewi Windarti. Kemudian dibuanglah Cupu itu ke danau. Namun kemudian ketiga anaknya berusaha mendapatkan cupu tersebut dan rela nyemplung ke dalam danau. Padahal cupu tersebut telah membuat siapa saja yang masuk danau tersebut akan menjadi monyet. Akibatnya anak-anak resi menjadi monyet. Begitulah Samsung (smartphone) telah berhasil membuat orang-orang di seluruh dunia menjadi patung dan monyet. Dalam kehidupan sehari-hari, misal saat pulang sekolah, pulang kuliah, atau pulang kerja, sering kita langsung pegang HP, tidak ada dialog dengan orang tua, kerabat atau tetangga. Semua asyik dengan gadgetnya masing-masing. Secara tidak langsung, sebenarnya kita semua telah dikutuk menjadi patung-patung dunia. Semoga refleksi ini bisa menyadarkan kita, khususnya aku sendiri, sehingga dapat menjadi manusia yang lebih baik serta hidup dalam suasana yang baik seperti ikan-ikan dalam air yang jernih, bebas dari polusi maupun limbah.

Irham Baskoro
17709251004
Pend. Matematika A, PPs UNY 2017